Saturday, 30 January 2010

"Snapshot" Amir Sjarifoeddin


Oleh: Rosihan Anwar
Membaca tulisan Sabam Siagian berjudul Diskusi tentang Alm Amir Sjarifoeddin (SP 31 Mei 2008) tampil lagi di layar ingatan saya beberapa snapshot Bung Amir, sebagaimana saya mengenalnya pada zaman pendudukan Jepang dan hari-hari pertama revolusi Indonesia. Pada suatu malam pertengahan 1942, zaman Jepang, di sebuah gedung di jalan yang kini bernama Merdeka Barat, Jakarta, Barisan Pemuda Asia Raya digembleng oleh Mr Amir Sjarifoeddin, pemimpin nasionalis terkenal. Atas dorongan Dr Abu Hanifah, saya dan Usmar Ismail memasuki perkumpulan Barisan Pemuda Asia Raya, yang selain dilatih berbaris secara militer oleh dua mantan opsir tentara KNIL juga diberi ceramah- ceramah mengenai nasionalisme. Bung Amir menguraikan sejarah pergerakan nasional dan menganjurkan agar pemuda melanjutkan perjuangan untuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan. Pemuda harus senantiasa senasib sepenanggungan dengan rakyat. Juga mendengarkan kata wong cilik. Dia menggunakan sebuah tamsil, yaitu supaya pemuda mendengarkan "radio masyarakat". Saya sangat terkesan oleh kepandaian Bung Amir berpidato. Saya kemudian menulis cerpen untuk ikut dalam perlombaan mengarang yang diselenggarakan oleh majalah Djawa Baroe. Judul cerpen Radio Masyarakat, terpilih sebagai pemenang nomor tiga. Dikasih hadiah Rp 50. Kelak dimuat oleh HB Jassin dalam antologi sastra Gema Tanah Air. Karena buku itu dipakai dalam pelajaran sastra pelajar SMP, saya dikenal sebagai yang menciptakan istilah Angkatan 45 dalam kesusasteraan, dan sebagai penulis cerpen Radio Masyarakat.
Pertemuan kedua dengan Bung Amir terjadi di Stasiun Gambir petang hari 1 Oktober 1945. Pada hari itu Merdeka, yang dipimpin BM Diah, terbit untuk pertama kali. Sebagai redaktur pertama harian Merdeka bersama Wali Kota Jakarta Suwiryo saya menunggu kedatangan Bung Amir dari Surabaya. Dia ditangkap oleh Jepang pada Januari 1943, dituduh memimpin gerakan di bawah tanah yang dibiayai dengan uang sebesar 25.000 gulden dari Van der Plas sebelum kapitulasi Belanda kepada Jepang. Dia dihukum mati oleh Jepang, tapi berkat intervensi Soekarno vonis itu tidak dilaksanakan. Bung Amir telah diangkat sebagai Menteri Penerangan dalam kabinet pertama Presiden Soekarno. Turun dari kereta api dia tampak lelah dan kurus. Jelas dia telah disiksa oleh kempetai Jepang. Dia tidak dapat memberikan keterangan apa-apa kepada wartawan yang datang, cuma satu orang. Dia langsung pulang ke rumah istrinya di Jalan Merbabu. Saya ikuti dia ke sana. Dia tetap tidak mau bicara. Kecuali bertanya "Saudara dulu ada di mana?" Saya jawab "Saya orang biasa, Bung". Segera dia bertugas sebagai Menteri Penerangan. Pada 4 Oktober diselenggarakan konferensi pers pertama dengan koresponden luar negeri yang telah datang di Jakarta. Diceritakannya pengalamannya dalam gerakan bawah tanah melawan Jepang. Dengan tegas disimpulkannya: "Semua itu menunjukkan cerita-cerita orang di luar bahwa pemerintahan RI adalah boneka Jepang sama sekali tidak benar". Saya terkesan mendengar kefasihan dia bicara dalam bahasa Inggris.
Tak Banyak Bicara
Pada hari yang sama di kediaman Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi), Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta menerima para koresponden luar negeri, yang pada waktu itu berpakaian seragam militer dan di pundak ada badge war correspondent. Soekarno didampingi oleh beberapa menteri, seperti, Menlu Subardjo, Mendagri Wiranatakusuma, Menteri Perekonomian Surachman, Menteri Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Menteri Kehakiman Soepomo, dan Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin yang pakai celana pendek, kaus kaki panjang, gaya uniform Marsekal Lord Wavell. Dia tidak banyak bicara. Yang menjawab pertanyaan Presiden Soekarno
Pada 10 Oktober, Tiongkok merayakan peringatan Kuomintang. Di gedung Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Lapangan Banteng (di zaman Belanda Hooggerechtshof, Mahkamah Agung) Bung Amir berpidato tanpa teks yang dipersiapkan. Dia bicara lancar, menarik, karena merujuk pada fakta-fakta sejarah. Salah satu sound bite diutarakannya ialah "Kemerdekaan adalah jembatan emas untuk mencapai keadilan dan kemakmuran".
Kami berada di Yogya pada 10 November 1945 di Gedung Sociteite, tempat diadakannya Kongres Pertama Pemuda Indonesia. Presiden dan Wakil Presiden hadir, juga Menteri Penerangan. Pukul 10.00 di- terima telepon interlokal dari Surabaya yang mengabarkan "Inggris telah mulai membom". Sumarsono, pemimpin PRI (Pemuda Republik Indonesia), segera menginstruksikan agar delegasi Jawa Timur meninggalkan ruangan dan kembali ke front. Bung Amir mendekati saya dan berkata "Pergilah ke Surabaya. Beritakan pertempuran di situ". Itulah sebabnya saya dan rekan Mohammad Supardi dari Merdeka dengan naik kereta api yang membawa amunisi berangkat meliput pertempuran di Surabaya.
Saya lihat Bung Amir bersama Dr Ak Gani menyambut kedatangan delegasi Belanda di Pelabuhan Cirebon pada November 1946. Ketua Komisi Jenderal Belanda mantan PM Schermerhorn dan Letnan Gubernur Jenderal Van Mook sedang dalam perjalanan ke Linggajati di mana sudah menunggu PM Sutan Sjahrir. Saya tidak dapat bicara dengan Bang Amir waktu itu. Saya bukan wartawan, melainkan ditunjuk oleh pemerintah menjadi ajudan Lord Killearn, sehingga sibuk melayani diplomat Inggris yang jadi mediator perundingan Linggajati. Karena Sjahrir menolak tuntutan Belanda supaya menyetujui pembentukan gendarmerie yang bertanggung jawab atas keamanan dan di- kepalai oleh jenderal Belanda, sedangkan di pasal-pasal politik dia telah memberikan konsesi, terjadi krisis yang menyebabkan Sjahrir mengembalikan mandatnya. Amir Sjarifoeddin tampil sebagai PM pada 3 Juli 1947, tapi dalam kabinetnya Masyumi tidak ikut serta. Atas saran Soekarno, Bung Amir memasukkan orang-orang Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) seperti Wondoamisano, Arudji Kartawinata ke dalam kabinet dan dengan begitu Masyumi terpecah-belah. Sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Siasat, saya diminta datang ke Yogya untuk menghadiri konferensi pers yang diadakan oleh Bung Amir. Saya dengarkan uraiannya bahwa dia membutuhkan backing politik golongan Islam terhadap kabinetnya dan karena itu memasukkan PSII ke dalamnya. Tak lama setelah saya balik ke Jakarta, pada 21 Juli 1947 Belanda melancarkan aksi militernya yang pertama terhadap Republik.
Kapal Perang
Kesempatan berikut saya melihat Bung Amir ialah di kapal perang Amerika Renville, yang berlabuh di Tanjung Priok di mana diadakan perundingan dengan pihak Belanda. Bung Amir sedang bercakap-cakap dengan Profesor Frank Graham, wakil Amerika dalam Komisi Tiga Negara (KTN) yang jadi perantara dalam perundingan Renville, Desember 1947 dan berakhir dengan ditandatanganinya Persetujuan Renville 17 Januari 1948. Waktu bercakap-cakap dengan Graham di geladak Renville, Bung Amir memegang sebuah Kitab Injil. Reaksi partai Masyumi dan PNI terhadap teks perjanjian Renville yang telah ditandatangani oleh PM Amir Sjarifoeddin menimbulkan krisis kabinet. Bung Amir mengembalikan mandat dan kabinetnya digantikan oleh kabinet Mohammad Hatta pada 29 Januari 1948. Sejak itu Bung Amir hilang dari layar radar pengamatan saya. Dari pedalaman datang berita mengenai oposisi keras dari Sayap Kiri yang kemudian menjelma sebagai FDR (Front Demokrasi Rakyat) terhadap kabinet Hatta. Bung Amir aktif di dalamnya. Pada 11 Agustus, Suripno yang mewakili RI di Praha, bersama seorang "sekretaris" terbang dari Bukittinggi ke Yogya dan beberapa hari kemudian mengungkapkan bahwa "sekretaris" itu ada- lah Musso, gembong PKI yang sudah lama bermukim di Uni Soviet.Dengan cepat Musso membubarkan FDR, membentuk PKI. Bung Amir memberikan pengakuan publik bahwa sejak 1935 dia bergabung dengan "Partai Komunis Ilegal" yang dibentuk oleh Musso di Surabaya pada 1936. Lalu Setiadjit, Tan Ling Djie, dan Abdulmadjid, juga mengaku mereka adalah komunis.Pada 18 September 1948 dipimpin oleh Sumarsono pecah pemberontakan PKI di Madiun. Akibatnya, Soekarno-Hatta bertindak tegas terhadap PKI. Musso ditembak mati ketika melarikan diri. Bung Amir bersama Maruto Darusman ditangkap, kemudian menjelang akhir tahun dieksekusi di sebuah desa dekat Solo. Bung Amir tewas dengan menggenggam sebuah buku doa Kristen, setelah menyanyikan lagu "Internationale", dalam usia 41 tahun, masih muda. Apakah Bung Amir komunis? Pertanyaan ini saya ajukan kepada Bung Sjahrir yang menjawab "tidak". Tapi, Sjahrir tidak memberikan alasan mengapa dia menjawab begitu. Bagaimanakah Bung Amir waktu masih studen Rechts Hoge School di Batavia? Tanya saya kepada Dr Abu Hanifah, yang satu asrama dengan Bung Amir. Dijawabnya "Amir itu seniman. Di kamarnya dia suka main biola menggesek lagu-lagu klasik. Pada waktu itu karena pengaruh guru besarnya Profesor Schepper dia sedang tekun membaca Injil, sebagai orang yang semula Islam berganti agama memeluk Kristen. Tidak ada tanda-tanda dia tertarik pada komunisme". George McTurnan Kahin penulis buku Nationalism and Revolution in Indonesia menceritakan bahwa Amir Sjarifoeddin menjadi tokoh oposisi di barisan Sayap Kiri karena "kecewa kepada Amerika sewaktu perundingan Renville". Dia merasa ditinggalkan oleh AS yang katanya jago demokrasi itu. Tapi, keterangan lain yang saya dengar waktu itu sebabnya Amir menyatakan dirinya komunis adalah untuk tetap bisa berperan sentral di pentas politik, berada at center stage. Mana yang benar, siapa yang tahu? Bung Amir telah membawa sebuah misteri ke alam kubur. Orang boleh mengadakan kajian psiko-analisis dan mungkin di situ bisa diperoleh jawaban untuk menerangkan perilaku Bung Amir. Di mata saya, sebagai wartawan muda di zaman revolusi, Bung Amir adalah seorang nasionalis, idealis, tapi bersamaan juga tragis.
Penulis adalah wartawan senior
Sumber: SUARA PEMBARUAN DAILY
Wednesday, November 26, 2008 at 4:51am

Thursday, 31 December 2009

Bagaimana kelaparan dan kemelaratan di setiap penjuru dunia mendorong seseorang untuk berpikir?

Salah satu permasalahan yang sering dibahas di media massa adalah ketidakadilan dalam masyarakat.
Ketika di belahan dunia yang satu terdapat negara-negara yang sangat makmur dengan tingkat kesejahteraan yang sangat tinggi, namun di belahan bumi yang lain terdapat orang-orang yang tidak memiliki sesuatupun yang dapat dimakan atau obat untuk penyakit yang paling ringan sekalipun sehingga mereka pada akhirnya meninggal tak terurus. Pertama-tama, fenomena tersebut menunjukkan keberadaan sebuah sistim yang dzalim dan tidak adil di dunia. Sebenarnya sangatlah mudah bagi satu atau segilintir negara untuk menyelamatkan orang-orang yang terdzalimi ini. Misalnya, rakyat di negara-negara tetangga di Afrika sedang mati kelaparan, namun ada kelompok masyarakat yang telah menumpuk harta dari pertambangan intan dan dengannya membangun sebuah peradaban yang maju. Kendatipun sangat mudah untuk memindahkan orang-orang yang hidup melarat dan kelaparan dan hampir meninggal ini, atau memberi sarana yang mereka butuhkan di daerah tempat tinggal mereka, namun selama puluhan tahun tidak ada jalan keluar yang berarti yang telah diberikan kepada mereka. Menolong orang tersebut bukanlah sebuah tugas yang dapat diselesaikan oleh segelintir orang. Untuk mendapatkan penyelesaian yang berarti, perlu banyak orang yang mau mengorbankan diri mereka. Sayangnya, hingga kini jumlah orang yang menklaim telah mengatasi bencana kemanusiaan tersebut masih terlalu sedikit.
Di lain pihak, trilyunan dolar telah dihambur-hamburkan di setiap penjuru dunia untuk beragam tujuan. Di satu sisi ada orang-orang yang membuang makanannya hanya karena tidak puas dengan jumlah garam dalam makanan tersebut, di lain pihak ada manusia yang mati karena tidak menemukan makanan untuk dimakan. Ini adalah bukti nyata adanya tatanan yang dzalim dan tidak adil akibat tidak diamalkannya akhlaq agama.
Orang yang memahami persoalan ini berpikir bahwa satu-satunya yang akan menghilangkan ketidakadilan adalah akhlaq yang diajarkan Allah. Mereka yang takut kepada Allah dan bertingkah laku sesuai dengan hati nurani dan akalnya tidak akan pernah membiarkan kepincangan dan ketidakadilan yang ada. Mereka akan keluar untuk menolong orang-orang yang membutuhkan dengan solusi yang cepat, tepat dan permanen tanpa menonjolkan diri ataupun mengharapkan segala sesuatu yang bersifat duniawi.
Disebutkan dalam Al-Qur'an bahwa menolong kaum fakir dan miskin adalah ciri orang-orang yang takut kepada Allah dan hari pembalasan:

"Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia dalam bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap adzab Tuhannya." (QS. Al-Ma’arij, 70: 24-27)

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (adzab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan." (QS. Al-Insaan, 76: 8-10)

Tidak memberi makan kepada orang miskin adalah ciri orang yang tidak beragama dan tidak memiliki rasa takut kepada Allah:

"Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa." (QS. Al-Haaqqah, 69: 30-37)

Bagaimana acara diskusi TV sampai pagi hari mendorong seseorang berpikir?

Bagi seseorang yang terus-menerus berpikir mendalam tentang segala yang ia lihat di sekitarnya, acara-acara diskusi yang disiarkan melalui TV pun dapat dijadikan bahan renungan.
Acara-acara tersebut menampilkan tokoh-tokoh serta para ahli di bidang yang sedang menjadi topik hangat di hari itu. Mereka mendiskusikan sebuah topik selama berjam-jam, namun tak seorang pun di antara mereka mampu memberikan jalan keluar atau mencapai sebuah kesimpulan. Padahal mereka yang menghadiri acara diskusi tersebut adalah orang-orang yang dipercayai memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah yang ada.
Sungguh, jalan keluar dari sebagian besar permasalahan yang sedang didiskusikan tersebut sangatlah jelas. Namun kepentingan pribadi masing-masing orang, pengaruh dari golongan mereka, ambisi untuk menonjolkan diri pribadi dari pada mencari sebuah solusi secara ikhlas, membawa mereka pada jalan buntu.
Ketika menyaksikan ini semua, orang yang memiliki nalar akan berpikir bahwa sebenarnya penyebab dari persoalan yang ada terletak pada jauhnya masyarakat dari agama Allah. Orang yang beriman kepada Allah tidak pernah menunjukkan perilaku yang tidak bertanggung jawab, sia-sia ataupun acuh tak acuh. Ia sadar bahwa ada kebaikan di setiap peristiwa yang Allah perlihatkan kepadanya. Ia paham bahwa ia selalu berada dalam keadaan diuji di dunia ini yang mengharuskannya untuk menggunakan akal, kekuatan dan pengetahuannya dalam segala hal yang dapat membuat Allah ridha.
Di samping itu, seorang mukmin senantiasa ingat akan sebuah ayat Allah ketika melihat acara tersebut:

Bagaimana jumlah kasus kejahatan, penyerangan dan pembunuhan mendorong seseorang untuk berpikir?

Setiap hari, melalui surat kabar lokal maupun berita televisi, seseorang mengetahui adanya kasus pembunuhan, penganiayaan, pencurian, perampokan, penipuan dan bunuh diri. Kejadian yang sering ini, serta kebanyakan manusia yang begitu cenderung melakukan tindak kriminal tersebut memperlihatkan akibat yang diderita oleh manusia yang hidupnya tidak berlandaskan agama Allah. Penculikan yang dilakukan oleh seseorang terhadap seorang anak kecil untuk mendapatkan uang tebusan yang menyebabkannya dihantui oleh perasaan takut yang sangat termasuk upaya pembunuhan terhadapnya; seseorang yang menodongkan senapannya ke arah orang lain lalu menembaknya tanpa ragu-ragu; seseorang yang menerima uang suap, melakukan bunuh diri atau penipuan…Semua ini adalah indikasi bahwa para pelaku tindak kriminal tersebut tidak takut kepada Allah dan tidak yakin akan keberadaan hari akhirat. Seseorang yang takut kepada Allah dan mengetahui bahwa ia akan dihisab di hari akhir tidak akan pernah berani melakukan satu pun dari berbagai kejahatan tersebut. Sebab semuanya adalah perbuatan yang akan dibalas dengan api neraka di akhirat.
Mungkin ada yang berkata:"Saya seorang ateis. Saya tidak percaya kepada Allah, tapi saya tidak menerima uang suap". Pernyataan orang yang tidak takut kepada Allah ini tidak meyakinkan sama sekali. Sangat mungkin bahwa komitmen dalam memegang janjinya akan melemah ketika kondisi berubah. Sebagai contoh, jika ia harus mendapatkan uang untuk keperluan yang sangat mendesak, dan kebetulan berada pada kondisi yang memungkinkannya untuk mencuri atau menerima uang suap, ia dapat saja tidak memegang janjinya. Hal yang sama dapat berlaku ketika nyawanya berada dalam bahaya. Kendatipun ia dapat menahan diri dari mengambil uang suap dalam situasi yang sulit, ia mungkin cenderung untuk melakukan perbuatan terlarang lainnya. Sebaliknya, orang yang beriman tidak pernah melakukan apapun yang tidak mampu dipertanggung jawabkannya di akhirat.
Jadi, penyebab semua tindak kejahatan tersebut, yang mendorong kita melakukan protes dan berteriak,"apa yang terjadi pada masyarakat kita!" melalui surat kabar, TV, kantor-kantor pada hakikatnya adalah jauhnya mereka dari agama. Ketika menyaksikan berita-berita sebagaimana di atas, orang yang beriman tidak memalingkan muka, sebaliknya mereka berpikir bahwa satu-satunya jalan keluar adalah untuk menyampaikan ajaran agama dan menghidupkan nilai-nilai akhlaq dalam masyarakat. Sebab dalam masyarakat yang terdiri atas orang-orang yang takut kepada Allah dan tahu bahwa mereka akan mempertanggung jawabkan perbuatannya di akhirat, tidaklah mungkin semua peristiwa ini terjadi. Dalam masyarakat yang demikian, kedamaian dan keamanan akan dinikmati pada puncaknya.

Bagaimana pepohonan mendorong seseorang untuk berpikir?

Setiap hari kita melihat pepohonan di berbagai tempat; akan tetapi, pernahkan kita memikirkan bagaimana air dapat mencapai daun yang paling jauh letaknya di ujung teratas dari sebuah pohon yang tinggi? Kita akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang keluarbiasaan ini dengan membuat sebuah perbandingan. Tidaklah mungkin bagi air dalam sebuah tanki di bagian bawah bangunan anda untuk naik ke lantai yang lebih atas tanpa adanya sebuah tanki hidroforik atau mesin pompa air yang kuat. Anda tidak akan mampu memompa air kendatipun hanya sampai ke lantai pertama. Oleh karena itu, sudah seharusnya ada sistim pemompaan yang mirip dengan mesin hidrofonik yang dimiliki oleh pohon. Jika tidak, mustahil air akan dapat mencapai batang pohon dan cabang-cabangnya di bagian atas sehingga pohon-pohon tersebut akan segera mati.
Namun Allah telah menciptakan untuk tiap-tiap pohon semua sarana dan perlengkapan yang diperlukan. Tambahan lagi, sistim pemompaan di setiap pohon terlalu canggih dibandingkan dengan yang ada di bangunan tempat tinggal manusia. Ini adalah satu diantara beragam hal yang hendaknya dipikirkan oleh seseorang ketika sedang menyaksikan tanaman-tanaman tersebut. Dan pemikiran semacam ini hanya akan muncul jika ia senantiasa melihat ke segala sesuatu dengan menggunakan "mata yang benar-benar melihat", yakni melihat sambil memikirkan secara mendalam tentang apa yang sedang dilihatnya.
Hal lain yang dapat dipikirkan berhubungan dengan dedaunan. Ketika memandang sebuah pohon, seseorang yang merenungkan segala sesuatu yang dilihatnya tidak akan menganggap daun-daun pohon tersebut sebagai bentuk-bentuk sederhana sebagaimana ia terbiasa untuk melihatnya. Ia berpikir berbagai hal yang belum pernah terpikirkan oleh orang lain. Dedaunan, misalnya, adalah sesuatu yang rentan dan mudah rusak. Namun, daun-daun ini tidak kering kerontang karena panasnya terik sinar matahari yang menyengat. Ketika seorang manusia berada pada suhu 40oC dalam waktu yang sebentar, warna kulitnya berubah, ia menderita dehidrasi. Sebaliknya, daun mampu untuk tetap hijau di bawah panas matahari yang menyengat tanpa terbakar selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan meskipun sangat sedikit sekali jumlah air yang mengalir melalui pembuluh-pembulunya yang mirip benang. Ini adalah sebuah keajaiban penciptaan yang menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ilmu yang tak tertandingi. Berpikir tentang keajaiban ciptaan tersebut, seseorang yang beriman mampu sekali lagi melihat kebesaran Allah untuk kemudian mengagungkan-Nya.

Monday, 28 December 2009

60 th Penyerahan Kedaulatan kepada RIS

Pak Rosihan Anwar pada tanggal 22 Desember 2009, hadir di Ridder Zaal Den Haag Negeri Belanda dalam rangka peringatan 60 th Penyerahan Kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat yang tepatnya tanggal 27 Desember 2009. Riddere Zaal adalah tempat berlangsungnya pembukaan Konperensi Meja Bundar (KMB) pada bulan Agustus 1949. Radio Nederland Wereld Omroep sebagai pengundang, telah membuat rekaman video untuk peristiwa ini. Dalam keterangannya, secara konsisten, Pak Rosihan berkata, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang memunculkan Republik Indonesia adalah tanggal 17 Agustus 1945. 60 tahun yang lalu sejak Agustus sampai Desember 1949, Pak Rosihan adalah wartawan surat kabar Pedoman yang bertugas meliput, baik KMB maupun Penyerahan Kedaulatan kepada RIS.

Wednesday, 23 December 2009

kuur house


Di Scheveningen Den Haag negeri Belanda ada sebuah bangunan yang kini dipakai Hotel. Pada masa lalu tepatnya dalam rangka Konperensi Meja Bundar gedung ini dipakai untuk perundingan Indonesia Belanda yang disaksikan PBB guna penyelesaian Dekolonisasi di Indonesia. Pada hari Senin tanggal 21 Desember 2009 dalam suasana lingkungan bersalju, Pak Rosihan Anwar melakukan Napak Tilas disini. Baginya tempat ini merupakan situs penting tempat berlangsungnya perhelatan bangsa itu pada masa lalu. Saat itu sebagai wartawan "Pedoman" dirinya diundang pemerintah Belanda untuk meliput jalannya konperensi yang berlangsung dari bulan Agustus sampai November 1949. Nama gedung ini dahulu "Kuur House" kira-kira artinya rumah berobat. Gedung yang dibangun pada abad ke 19 ini berada dipantai dekat kota Den Haag. Pantai itu dikenal sebagai daerah Scheveningen. Pak Rosihan dengan sedikit romantik bercerita : "Dahulu pada tanggal 17 Agustus 1949, Wakil Presiden, Perdana Menteri RI mengadakan perayaan 17 Agustus yang keempat kalinya diruangan ini. Beliau berpidato dimana antara lain dikatakannya, 4 tahun lamanya kami berjuang dimana kami mengalami kekalahan-kekalahan, tapi kami tidak mau mengaku kalah". Berhenti sejenak pada ceritanya Pak Rosihan termenung, memandang jauh keruang resepsi Kuur House yang kini adalah restoran hotel seolah jago tua wartawan ini berada menembus waktu lampau dan benar-benar berada ketika konperensi tersebut berlangsung. Meja Bundar berakhir dengan peristiwa "Penyerahan Kedaulatan" yang berlangsung diistana Dam, Amsterdam. Kami akan berkunjung kesana besok rencananya tanggal 25 Desember 2009, semoga tidak turun salju......